20 Juni 2017

Minum Es Saat Haid Sebabkan Kanker Serviks, Hoaks atau Fakta?

Belakangan ini, beredar pesan berantai seputar penyebab kanker serviks yang sulit dipertanggungjawabkan kebenarannnya. Pesan itu juga sempat menyebar tahun 2014. Saat itu, beredar melalui aplikasi pesan di BlackBerry Messengers (BBM). Kini, berwujud melalui Whatsapp Group (WAG), telegram, dan sejumlah aplikasi pesan lainnya berbasis android.

Kabar tanpa dasar itu membuat khawatir kaum perempuan. Pesan siaran tersebut berisi semacam imbauan dan larangan untuk mengonsumsi air dingin (air es), minuman bersoda, dan air kelapa saat datang bulan (haid).

Selain itu, juga dilarang mengonsumsi mentimun karena terindikasi getahnya mampu menyebabkan haid yang tersisa di dinding rahim. Lebih aneh lagi, perempuan juga tak boleh terbentur, terjatuh, hingga terpukul benda keras, terutama bagian perut.

Menurut pesan berantai yang disebut-sebut dari Lembaga Penyuluh Kanker Indonesia (LPKI) itu, hal demikian bisa menyebabkan muntah darah dan rahim terluka. Pada akhirnya, semuanya dikatakan bisa menyebabkan kista dan kanker rahim.

Menanggapi hal itu, Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Kotawaringin Barat Dokter Fachrudin mengatakan, pesan tersebut tidak benar. Kanker serviks tidak ada hubungan langsung dengan minuman dan aktivitas tertentu yang menyebabkan perut terpukul atau sejenisnya.

”Hoaks itu (pesan berantai penyebab kanker serviks). Sudah lama beredar. Seingat saya tahun 2014 lalu sudah mulai muncul, namun hilang. Kini kembali menyebar. Mungkin karena kasus kematian artis itu (Julia Perez, Red),” ujarnya, Sabtu (17/6).

Dia menjelaskan, kanker serviks secara umum disebabkan human papilloma virus atau HPV. Virus inilah yang mengganggu sel-sel leher rahim agar bisa berfungsi secara normal dan akhirnya bisa memicu kanker. HPV sangat umum ditularkan melalui hubungan seks dan dapat menjadi penyebab munculnya kanker serviks.

”Sampai sekarang, diduga banyak perempuan tidak menyadari telah terinfeksi, karena HPV penyebab kanker serviks sering tidak menimbulkan gejala. Penting disadari, bahwa infeksi ini sering terjadi dan kadang tidak menyebabkan kanker,” ujarnya.

Peluang tinggi masuknya HPV ke tubuh, lanjutnya, juga karena perilaku sering berganti-ganti pasangan. Tidak hanya bagi perempuan, namun bagi lelaki. Terutama yang telah menikah dan masih sering gonti-ganti pasangan yang juga bisa menjadi media pembawa HPV.

”Bagi perempuan yang sudah menikah, terkadang bisa tertular juga bila suaminya (meski tidak banyak) sering ‘jajan’ dengan main di luar. Risikonya cukup tinggi, karena mereka kan tidak tahu kondisi kesehatan lawan main itu seperti apa. Bahkan, tidak hanya kanker serviks, HIV/AIDS juga mengancam,” katanya.

Menurutnya, upaya pencegahan dinilai lebih baik. Misalnya, dengan menggunakan metode Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) dan harus ditindaklanjuti dengan krioterapi jika ditemukan IVA positif. Pengobatan ketika sel-sel masih dalam tahap pra-kanker bisa dilakukan agar risiko terkena kanker serviks bisa berkurang.

Dia menambahkan, pemerintah juga tengah mengampanyekan vaksin human papiloma virus (HPV) kepada siswi sekolah dasar di beberapa daerah. Vaksin HPV dianggap cukup efektif mencegah perempuan terserang HPV yang akan berlanjut pada kanker serviks.

Dari penjelasan Dokter Fachrudin tersebut, bisa disimpulkan bahwa pesan berantai mengenai penyebab kanker serviks yang belakangan ini menyebar luas merupakan hoaks belaka.sumber:prokal

Pria dalam Pusaran HPV dan Kanker Serviks

Memang kanker serviks hanya menyerang perempuan, karena yang punya serviks hanya perempuan. Namun perpindahan human papillomavirus (HPV) melibatkan hubungan seksual. Maka pria pun dapat menjadi tertular maupun penular.

Bahkan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular di Amerika Serikat (CDC) menyebut HPV sebagai salah satu penyakit menular seksual yang lumrah.

Tentu lumrah tak berarti boleh diabaikan. Pada perempuan, jelas masalahnya. Kanker serviks dapat berujung maut -- misalnya dalam kasus aktris Julia Perez, yang diduga bersumber dari suami (Intisari, 10/6/2017).

Kalau terhadap pria bagaimana? Belum tentu efeknya terlihat. Namun beberapa gejala dapat ditengarai. Misalnya berupa kutil pada zakar. Si pria perlu segera memeriksakan diri ke dokter, apalagi jika kutil dan sejenisnya juga tumbuh di bagian lain di kawasan kemaluan.

HPV dalam diri pria dianggap berbahaya karena dapat memengaruhi kondisi tubuh sehingga berkemungkinan mempersilakan kanker jenis lain untuk tumbuh.

CDC juga menyarankan vaksinasi HPV untuk pria maupun perempuan berusia antara 11-12 tahun. Vaksin susulan disarankan dilakukan kepada pria berusia 21 tahun dan perempuan 26 tahun.

Pria dan perempuan harus sama-sama peduli HPV. Itulah yang utama. Seorang pria Jakarta, sebut saja Nelson (34), kini sudah waspada HPV setelah perempuan kekasihnya, yang kemudian jadi mantan, melakukan tes pap smear tiga tahun lalu (The Jakarta Post, 15/6/2017).sumber:beritagar

#testimoni KANKER SELAMA 8 TAHUN MENGERING

Saya mempunyai teman yang Ayahnya menderita kanker di sekitar tulang pipi dan kelopak mata sebelah kanan. Dan penyakit ini sudah diderita s...

Find Us on Facebook

Arsip Blog

Visitors