27 November 2016

Kemenkes Bantah Vaksin Kanker Serviks Bikin Menopouse Dini

Kementerian Kesehatan angkat bicara terkait isu yang menyebar di media sosial bahwa pemberian vaksin human papillomavirus (HPV) untuk mencegah kanker serviks (leher rahim) bisa menyebabkan menopause dini atau kemandulan.

“Sampai saat ini tidak ada bukti yang menunjukkan adanya hubungan Premature Ovarian Failure (POF) dengan penggunaan vaksin HPV,” ujar Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Oscar Primadi , Minggu 27 November 2016.

Oscar menjelaskan Premature Ovarian Failure (POF), sekarang disebut oleh komunitas ilmiah sebagai Primary Ovarian Insufficiency (POI), adalah istilah yang digunakan oleh praktisi medis ketika ovarium seorang wanita berhenti bekerja normal sebelum dia berusia 40 tahun. "Hal ini jarang terjadi pada remaja," katanya.

Kementerian Kesehatan menyampaikan, hingga saat ini, tidak ada bukti yang menunjukkan adanya hubungan kejadian menopouse dini dengan penggunaan vaksin HPV.  Justru menggunakan vaksin HPV dapat mencegah terjadinya kanker serviks.

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, kasus kanker di Indonesia terjadi sebanyak lebih kurang 330.000 orang dengan kasus terbesar adalah kanker serviks atau kanker leher rahim. Sementara itu, data dari WHO Information Centre on HPV and Cervical Cancer menyatakan bahwa 2 dari 10.000 wanita di Indonesia menderita kanker serviks. Diperkirakan 26 wanita meninggal setiap harinya karena penyakit berbahaya ini.

Imunisasi HPV, menurut Kementerian Kesehatan, merupakan pencegahan primer kanker serviks. Tingkat keberhasilannya dapat mencapai 100% jika diberikan sebanyak 2 kali pada kelompok umur wanita naif atau  wanita yang belum pernah terinfeksi HPV yaitu  pada populasi  anak perempuan umur 9-13 tahun yang merupakan usia sekolah dasar.

Hasil penelitian selama 14 tahun menunjukkan setelah mendapat imunisasi HPV, penerima vaksin masih terproteksi 100 persen terhadap HPV tipe 16 dan 18 sehingga tidak diperlukan imunisasi ulang (booster).

Sejak pertama kali mendapat izin edar pada tahun 2006, lebih dari 200 juta dosis vaksin HPV telah dipakai di seluruh dunia. WHO merekomendasikan agar vaksin HPV masuk dalam program imunisasi nasional.

Badan  WHO yaitu Global Advisory Committee on Vaccine Safety (GACVS) mengumpulkan data post marketing surveilans dari Amerika Serikat, Australia, Jepang dan dari manufaktur. Data dikumpulkan dari tahun 2006, sejak pertama kali vaksin HPV diluncurkan sampai tahun 2014. Pada 12 Maret 2014, GACVS menyatakan tidak menemukan isu keamanan yang dapat merubah rekomendasi vaksinasi HPV.

Center for Disease Control and Prevention (US CDC) yang memantau keamanan pasca-lisensi dari Juni 2006 hingga Maret 2013 menunjukkan tidak ada masalah keamanan vaksin HPV. Atas dasar hasil ini, di Amerika Serikat, vaksin HPV tetap direkomendasikan dan digunakan sebagai vaksinasi rutin.

Berdasarkan data WHO per September 2016, saat ini baru 67 dari 194 negara di dunia yang sudah mengimplementasikan program imunisasi HPV di negaranya. Sudah banyak hasil dari penelitian yang valid dari negara-negara tersebut terkait manfaat yang bermakna untuk menurunkan beban penyakit kanker serviks. Termasuk penyakit terkait infeksi HPV lainnya.

“Program nasional pencegahan kanker leher rahim yang sudah dilaksanakan saat ini dengan deteksi dini menggunakan metode IVA dan dibarengi vaksin HPV,” kata Oscar. Pemerintah merencanakan penambahan vaksin baru ke dalam program imunisasi nasional yaitu vaksin HPV dengan pemberian imunisasi HPV kepada siswi perempuan kelas 5 SD untuk dosis pertama dan kelas 6 SD untuk dosis kedua, melalui program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS).

Kegiatan pemberian imunisasi HPV melalui program BIAS ini diawali dengan pemberian imunisasi di lokasi percontohan yang memiliki angka prevalensi kanker serviks yang tinggi dan dipandang memiliki kesiapan dalam melaksanakan imunisasi HPV, yaitu provinsi DKI Jakarta mulai bulan Oktober 2016 dan akan dilanjutkan pada tahun depan di dua kabupaten di provinsi DIY yaitu kabupaten Kulonprogo dan Gunung Kidul.

Pelaksanaan imunisasi HPV dalam Kegiatan BIAS di DKI Jakarta sudah mendapatkan rekomendasi dari Komite Penasihat Ahli Imunisasi Nasional (Indonesian Technical Advisory Group on Immunization).*tempo

28 Perempuan Tanjungpinang Positif Kanker Serviks

Kanker serviks yang menderita perempuan di usia subur bukan lagi sebuah mitos. Berdasarkan data resmi yang dilansir Dinas Kesehatan Tanjungpinang, dari 939 perempuan usia subur yang sudah diperiksa sepanjang tahun ini, 28 di antaranya dinyatakan positif menderita kanker serviks.

Kepada 28 perempuan tersebut juga sudah diambil tindakan berupa perujukan ke rumah sakit.

Wakil Wali Kota Tanjungpinang, Syahrul menyatakan, kegiatan deteksi dini kanker serviks sudah dilakukan sejak dua tahun silam.

“Karena itu, kami mengimbau agar kaum perempuan yang berada di usia subur untuk rutin melakukan pemeriksaan. Kalau diketahui lebih dini, tentu lebih mudah untuk diambil tindakan penyembuhan secepatnya,” kata Syahrul ketika menghadiri pencanagan Gerakan Nasional IVA Test/Sadanis di Puskesmas Pancur, Kamis (24/11/2016).

Dari data deteksi dini pada 2014 silam, telah diperiksa 77 perempuan di usia subur dengan hasil satu orang di antaranya positif kanker serviks. Kemudian pada 2015, jumlah perempuan yang diperiksa meningkat drastis. Dari 797 perempuan yang diperiksa, 25 di antaranya positif. Sedangkan tahun ini hingga November, sudah ada 28 perempuan yang positif dari 939 perempuan yang sudah menjalani deteksi dini.

Dikatakan Syahrul, saat ini penyakit kanker serviks merupakan salah satu penyebab kematian utama di seluruh dunia. Pada 2012 saja, tercatat 8,2 juta kematian disebabkan oleh kanker, seperti kanker paru, hati, perut dan kolorektal, sementara kematian tertinggi setiap tahunnya adalah kanker payudara.

Sementara berdasarkan data resmi dari GLOBOCAN pada 2012, lanjut Syahrul, kanker serviks menduduki urutan ke-7 secara global dalam segi angka kejadian, urutan ke-6 negara berkembang, dan urutan ke-8 sebagai penyebab kematian. Di Indonesia kanker serviks menduduki urutan ke 10 dari kanker terbanyak berdasar data patologi anatomi tahun 2010 dengan insidens sebesar 12,7 persen.

“Kalau menurut Kementerian Kesehatan RI, saat ini jumlah wanita penderita kanker serviks berkisar 90-100 kasus per 100.000 penduduk dan setiap tahun terjadi 40 ribu kasus kanker serviks. Jangan sampai angka ini terus meningkat, apalagi di Tanjungpinang ini,” kata Syahrul.

Ketua Yayasan Kanker Indonesia Provinsi Kepri, Noorlizah Nurdin Basirun menyampaikan kegiatan ini merupakan bentuk perhatian pemerintah kepada guru yang telah memberi peningkatan pendidikan, khusunya peningkatan generasi bangsa.

“Mudah-mudahan guru selalu sehat guna meningkatkan profesi guru dan mutu pendidikan. Dan pembangunan kualitas perempuan Kepri dari waktu ke waktu juga,“ kata istri gubernur ini.

Kepala BPJS Cabang Tanjungpinang, Nur Indah Yuliati mengatakan kegiatan ini sebagai upaya promotif dan preventif dalam menyediakan pelayanan deteksi dini leher rahim melalui pemeriksaan IVA atau papsmear.

Gerakan Nasional Deteksi Dini IVA test/sadanis bagi guru Indonesia, menargetkan jumlah peserta yang diperiksa sebanyak 200 orang, terdiri dari guru perempuan, guru negeri/swasta dan istri guru di masing-masing Kabupaten/Kota. Untuk mencapai target tersebut telah disiapkan 10 titik lokasi pencanangan yang dapat diakses oleh para guru dan isteri guru.

“Silakan melakukan pemeriksaan, karena Kartu JKS KIS itu bisa digunakan untuk pemeriksaan deteksi dini kanker serviks,” pungkas Nur Indah.*batampos

13 November 2016

Perempuan yang Menikah Muda Rentan Terkena Kanker Serviks

Perempuan yang menikah di usia muda rentan terkena kanker serviks atau kanker leher rahim. Selain itu, wanita yang kerap bergonta-ganti pasangan seks juga disebut sebagai salah satu penyebab terserangnya penyakit mematikan tersebut.

“Perempuan yang memiliki banyak anak juga rentan terkena kanker serviks,” kata Dokter Murod, Sp.OGK, disela-sela pemeriksaan pap smear dan pemeriksaan kanker payudara di Rumah Sakit Daerah (RSD) Balung, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Jum’at (11/11/2016) siang.

Pap Smear merupakan sebuah tes yang dapat memeriksa keadaan sel-sel pada serviks atau leher rahim dan vagina.

Murod menjelaskan, berdasarkan sejumlah penelitian, perempuan yang relatif aman dari kanker serviks adalah yang menikah diatas usia 20 tahun. Jika kurang dari itu, maka ada ketidaksiapan sel dalam leher rahim yang menyebabkan infeksi virus sehingga memicu sel kanker serviks.

“Penyakit ini adalah penyebab kematian perempuan tertinggi selain kanker payudara. Diperkirakan setiap setengah jam ada satu perempuan yang meninggal karena kanker serviks,” ujarnya.

Menurut dia, kanker serviks dapat menyerang kaum perempuan semua usia yang telah menikah, bahkan hingga usia lanjut. Oleh karena itu perlu dilakukan deteksi dini terhadap penyakit mematikan ini dengan melakukan pemeriksaan ke dokter secara rutin selama 6 bulan hingga 1 tahun sekali.

“Dengan pemeriksaan rutin, perubahan sel-sel yang mungkin bisa berkembang menjadi kanker atau sudah menjadi kanker bisa terdeteksi,” terangnya.

Murod menambahkan, melihat ganasnya penyakit ini semua pihak harus memperhatikan kaum perempuan, mulai dari keluarga hingga pemerintah. Karena kanker serviks pada mulanya tak menimbulkan gejala dan baru diketahui setelah mencapai stadium lanjut.

“Tak ada jalan lain, harus diperiksakan rutin. Caranya mudah, kok. Dan di Jember sudah ada bidan yang terlatih khusus untuk melakukan pemeriksaan serviks,” katanya.

Pemeriksaan pap smear dan ini kanker payudara ini disambut antusias oleh kaum perempuan di Jember. Karena biayanya cukup ringan, sedangkan bagi pemegang kartu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan bisa mendapat layanan gratis.

“Untuk umum hanya Rp 100 ribu. Sementara pemegang kartu BPJS, Jamkesmas maupun Jamkesda gratis,” tutur Panitia Penyelenggara Pap Smear dan Pemeriksaan Kanker Payudara RSD Balung, Arif Affandi.

Menurutnya, pemeriksaan ini akan dilakukan dua kali yakni Jum’at (11/11/2016) hari ini dan Jum’at (18/11/2016) pekan depan.

“Hingga siang ini tercatat ada 30 perempuan yang telah mendaftar. Mungkin nanti jumlahnya bisa bertambah, karena memang sehari penuh,” ucapnya.

Sementara itu, Dewi Puspita, salah seorang pasien pap smear tersebut mengaku berminat mengikuti program itu karena khawatir terjangkit kanker serviks. Setelah mengetahui penjelasan dari petugas medis, untuk selanjutnya dirinya berencana melakukan pemeriksaan ini secara rutin.

“Takutnya seperti Jupe (Julia Perez) itu kan? Insyaallah saya akan rutin memeriksakan diri karena memang sudah tahu bahayanya seperti apa,” tandasnya.*timesindonesia 

Find Us on Facebook

Arsip Blog

Visitors


bisnis dari rumah